Selamat Datang Di Ruang Telanjang

Siapapun dan apapun profesi Anda, silakan bertelanjang fikir di ruang terbuka ini. Sebab hanya di ruang inilah, tidak ada seorang pun yang akan menganggap Anda gila sekalipun Anda lepaskan semua carut marut pikiran Anda. Anda boleh misuh-misuh, tapi Anda pun berkesempatan untuk berdzikir di ruang ini. Satu-satunya aturan yang berlaku di ruang ini hanyalah "anarkisme" alias tidak ada aturan.

21 Juni 2008

Nabi Adam dan Cak Nun

Pernah dengar gosip tentang Atlantis ? Yakni sebuah benua yang tata kehidupan masyarakatnya diyakini sebagai peradaban tertua di muka bumi. Berdasarkan penelitian seorang propesor dari Brazil bernama Prof Arysio Nunes dos Santos, benua itu membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatera, Jawa, Kalimantan terus ke arah timur. Dan, Indonesia adalah pusatnya. Tepatnya di Pulau Jawa.

Ah, sampean bisa aja Pak Propesor. Begitulah kira-kira kalau kita berkesempatan ketemu langsung dengan Pak Propesor itu. Peyek yo peyek, nanging ojo diremet-remet. Ngenyek yo ngenyek, tapi mbok ya ojo banget-banget. Masak Pulau Jawa yang ndeso dan kuper ini dibilang mbahnya peradaban dunia ? Yang bener aja !

Baik. Simpan dulu nafsu ketidakpercayaan Anda. Tidak perlu marah-marah. Apalagi mengacung-acungkan pedang sambil teriak-teriak menyebut nama Gusti Allah. Kalau masih penasaran, silakan teruskan baca. Tapi bagi yang tidak penasaran, ya silakan baca juga kelanjutannya.

Mak bedundung. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Ternyata secara tiba-tiba temuan Pak Propesor itu bak gayung bersambut dengan racikan teorinya Kiai Mbeling dari Jombang. Siapa lagi kalau bukan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Bedanya, racikan Pak Propesor itu mengandalkan kekuatan logika semata dengan melakukan penelusuran bukti-bukti materi. Tapi Cak Nun ? Kayaknya nih, agak beda. Ramuannya diracik dengan mengerahkan seluruh kekuatan. Baik dari kesatuan nalar dengan pasukan intinya berupa panca indera, maupun dari kesatuan di luar nalar yang mengandalkan ma’rifat sebagai pasukan elitnya (kira-kira begitu ndak Cak Nun ?).

Dalam sebuah kesempatan, Cak Nun menyuguhkan ramuan hasil racikannya itu di depan jamaah pengajian Bang Bang Wetan di Surabaya, Kamis (19/6). Konon, kata Cak Nun, suatu ketika rombongan malaikat mengadakan tour. Namanya Tour de’ Jagat Raya.

Rombongan para malaikat ini dipimpin oleh Ketua Dewan Syuro bernama Azazil. Dia adalah sayyidul malaikat (pemimpin para malaikat, Red) yang kerap disapa Iblis. Ketika rombongan ini sampai di bumi, tiba-tiba Azazil minta turun. “Wuih…tempat apa nih ? Asyik juga. Wis rek…aku tinggalen ae,” kata Azazil kepada para yuniornya.

Karena yang memberi instruksi adalah Ketua Dewan Syuro, otomatis tidak ada yang berani membantah. Maka pulanglah rombongan malaikat itu ke surga. Sesampainya di surga, rombongan ini diabsen sama Gusti Allah. “Lha, Azazil mana ? Kok ngga ada tuh,” tanya Gusti Allah. Setelah diberi penjelasan, akhirnya Gusti Allah mafhum.

Selang beberapa waktu kemudian, Gusti Allah mengumpulkan para malaikat. Dalam pertemuan itu Gusti Allah mensosialisasikan program terbarunya menciptakan manusia. Maka diutuslah Jibril untuk mengambil tanah dari bumi sebagai bahan dasar manusia. Tapi sayangnya, bumi dijaga ketat Azazil. Di sana-sini terdapat panser, tank-tank dan ketinggalan radar pengintai. Misi pertama pun gagal. Maka diberangkatkanlah misi kedua di bawah pimpinan Mikail. Hasilnya juga sama, gagal.

Sampailah pada misi keempat di bawah komando Jenderal Izroil. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Izroil pun menunggu lengahnya Azazil. Dan…sruuttt, berhasillah Izroil mengambil tanah dari bumi. Proyek penciptaan manusia pun akhirnya bisa dilanjutkan kembali tanpa menunggu APBN-P (Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan).

Jadilah Adam. Saking sayangnya kepada Adam, Gusti Allah membuatkan istana megah lengkap dengan seluruh perabotan kenikmatan. Istana itu dibangun di salah satu kapling di kawasan tanah surga.

Iseng-iseng Azazil mengingat-ingat firman Gusti Allah. Bahwa ‘inni jaailun fil ardli kholifah’. Bahwa sesungguhnya manusia diciptakan untuk menjadi kholifah di bumi. “Nah, kalau terus-terusan hidup di surga, kapan Adam bisa jadi kholifah di bumi ? Berarti Adam harus diseret ke bumi,” gumam Azazil dalam hati. Maka, Azazil pun memutuskan untuk menyusup ke surga.

Yang menarik, bagaimana Cak Nun menceritakan perjuangan Azazil untuk bisa masuk ke surga. Katanya, Azazil harus melewati 2 pintu utama. Pintu pertama dijaga oleh burung garuda yang tidak lain menjadi lambang negara kita tercinta. Pintu kedua dijaga oleh seekor naga besar yang ditafsirkan sebagai lambang Negara China. Dan di akhir cerita, Azazil pun berhasil menyeret Adam ke bumi hanya untuk menjalankan firman Gusti Allah secara konsisten. Bahwa Adam memang diperuntukkan untuk menjadi kholifah di bumi.

Setelah mencicipi racikannya Kiai Mbeling, apa tanggapan Anda ? Geli atau gelisah ? Geli karena ini tafsir yang sangat nyleneh dan bertentangan dengan mainstream tafsir selama ini ? Atau gelisah karena Anda mulai menyangsikan tafsir yang selama ini sudah menjadi pakem di benak mayoritas muslim ? Juga gelisah karena Anda mulai bisa merasakan lezatnya racikan masakannya Cak Nun ? Jangan-jangan Nabi Adam dulu memang benar-benar diturunkan di Jawa ?

Apalagi, Cak Nun juga menyuguhkan logika-logika yang sederhana tentang kebenaran bahwa Jawa adalah bangsa tertua di dunia. Kata Cak Nun, kosakata dalam bahasa Jawa jauh lebih kaya dibanding bahasa-bahasa lainnya. Misalnya tentang kata jatuh. Dalam Bahasa Inggris hanya dikenal falling down. Sementara Bahasa Indonesia hanya memiliki koleksi kata jatuh. Padahal dalam Bahasa Jawa ada tibo, logor, ndelosor, nyosor, nyungsep, rotoh, kejongor, nggludek, dan masih banyak lainnya.

Contoh lainnya adalah, kata kunduran truk. Coba Anda kumpulkan seluruh ahli bahasa, dan minta kepada mereka untuk mencarikan padanan kata tersebut dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Barangkali sama susahnya dengan mencari protholan idep dalam tumpukan jerami.

Sekalipun penjelasannya tidak mudah dibantah, benarkah tafsir baru ala Cak Nun itu ? Toh, Cak Nun tidak sendirian. Yah, setidaknya juga ada Pak Propesor tetangganya Subastio itu. Yang sama-sama menduga bahwa Jawa adalah peradaban tertua di bumi. Benarkah ? Benarkah ? Benarkah ? Wallahu a’lam.

Ada teka-teki lawas yang sering kita dengar. Ada 2 ekor banteng sedang terjepit di dalam sebuah lorong sempit. Saking sempitnya, lorong itu hanya bisa dilewati satu banteng saja. Padahal, sekarang ada 2 banteng yang sedang terjebak. Yang satu menghadap ke barat, satunya lagi menghadap ke timur. Pertanyaannya, bagaimana caranya supaya banteng itu sama-sama lewat tanpa ada pihak yang harus mengalah ?

Ada yang menjawab bahwa salah satu banteng harus mundur dulu untuk memberikan kesempatan kepada yang satunya. Berarti ada yang harus mengalah dong ? Jawaban lainnya adalah salah satu banteng naik lewat punggung banteng yang satunya lagi. Ya sama aja, artinya harus ada yang mengalah kan ? Atau jawaban lainnya adalah biarkan banteng itu beradu sampai nanti secara alamiah akan muncul satu banteng saja. Ini lebih konyol lagi.

Jawaban-jawaban ini muncul karena memang frame kita adalah seneng gontokan. Diakui atau tidak, hidup kita ini seringkali jadi lebih gayeng kalau ada musuhnya. Tidak percaya ? Lha wong kita ini senengane nggarahi wong kok. Di jalan, di kampus, di kehidupan sosial, di forum atau di mana saja. Kita sudah biasa mbenthuk-mbenthukno endhas.

Jangankan kita yang orang awam. Para intelektual saja tata logikanya juga diametral kok.
Coba tanya, botol Coca Cola itu besar apa kecil ? Stadion Tambaksari itu besar apa kecil ? Pasti tidak ada yang bisa jawab. Karena tidak ada lawannya. Mereka pasti akan balik bertanya, besar atau kecil dibandingkan apa ? Nah, kan !

Mereka akan menjawab, bahwa botol Coca Cola lebih kecil dibandingkan Stadion Tambaksari. Tapi botol Coca Cola lebih besar dibandingkan dengan upil yang nangkring di hidung. Jelas to ? Bahwa mindset kita memang cenderung membentur-benturkan sesuatu. Dalam konteks ini, botol Coca Cola yang tidak punya salah apa-apa harus dibenturkan dengan stadion Tambaksari atau upil.

Padahal, jawaban dari teka-teki 2 banteng di atas sangat sederhana. Ya, biarkan saja banteng itu sama-sama jalan. Artinya harus beradu ? Ndak juga. Lha wong banteng yang menghadap barat itu posisinya di barat dan banteng yang menghadap timur itu posisinya di timur. Alias singkur-singkuran. Apanya yang harus diadu ?

So, biarkan saja banteng Jawa lewat. Pun tidak perlu merasa terganggu jika ada banteng Arab melintas. Dengan kata lain, tafsir baru ala Cak Nun tidak perlu dibenthuk-benthukno dengan tafsir-tafsir lain. Ketimbang tambah stress. Mending kalau ujung-ujungnya cuman bunuh diri. Tapi kalau saking sumpek’e terus ngaku-ngaku nabi. Wah, blain iku !

Sebab yang terpenting dari seluruh pengajian Cak Nun malam itu adalah bahwa adanya suntikan virus-virus optimisme untuk mewujudkan Indonesia Bangkit. Jika Cak Nun ngompor-ngompori kita menggunakan pendekatan budaya dan religi, ya harus terus digelorakan. Apapun caranya, yang penting keluarannya Bung !

Apalagi, Cak Nun sangat optimis bahwa pemimpin peradaban kelak di kemudian hari adalah Indonesia dan China. Ini didasarkan pada simbol penjaga pintu surga saat akan dibobol Azazil, yakni Garuda dan Naga. Kedua simbol inilah yang seharusnya bisa menjaga peradaban dunia sebagaimana keduanya menjaga surga. Hampir sama dengan apa yang pernah digagas Gus Dur ketika menjabat presiden. Yakni membangun poros Asia yang bertumpu pada kekuatan Indonesia, China dan India.

Sak iki koen kabeh iki sik dadi emprit. Ojo gelem rek ! Koen iku asline Garuda. Ayo sak iki dadi Garuda maneh,” begitu tegas Cak Nun disambut riuh tepuk tangan para jamaah.

Jadi jelas, bahwa KEBANGKITAN INDONESIA HARUS DITERIAKKAN MULAI HARI INI JUGA !!!